LGBT: Meninjau Tiada Akhir

Photo Source: Vancity Buzz
Melalui tulisan ini saya ingin menyuarakan pikiran saya, sesuai dengan hati nurani saya. Saya akan melampirkan beberapa sumber pendukung pemikiran saya, dengan maksud saya tidak ingin meyuarakan opini tidak bermakna tanpa di dasari oleh fakta. Opini tidak dimaksudkan untuk memaksa pembaca meyakini apa yang saya yakini, saya akan tetap menghargai keberagaman persepsi setiap individu.
**Pasal 28E
(2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.
(3) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.

PERINGATAN! Tulisan ini mengandung unsur memihak, unsur agama dan pernyataan yang bersifat opini.

Terlepas dari perdebatan beberapa pakar tentang dapat atau tidaknya LGBT digolongkan kedalam penyakit. LBGT menurut pandangan saya sebagai Warga Negara Indonesia adalah suatu perilaku tidak normal atau abnormal. Dengan definisi sikap hidup yang tidak sesuai dengan pola kelompok masyarakat tempat seseorang berada sehingga tidak tercapai suatu relasi interpersonal dan intersosial yang memuaskan. (Kartini Kartono, 1989)

Suatu perilaku yang menghianati dasar negara kita Pancasila. Yang dengan lantang sila pertamanya berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa. Tegas menyatakan seharusnya kehidupan warga negara Indonesia dilandasi oleh nilai-nilai agama. Dan perilaku LGBT jelas keluar dari landasan ini karena ingkar dari nilai-nilai agama yang menurut sumber-sumber saya, tidak ada agama di indonesia yang memperbolehkan. *sumber akan saya lampirkan dibawah.

Tidak sesuai pula dengan sila ke tiga, yaitu kemanusiaan. Sudah suatu kepastian dimana hubungan intim antara individu berkelamin sama tidak dapat menghasilkan keturunan. Hal ini tentu akan mengerucutkan jumlah generasi selanjutnya, dimana hal ini sama saja mengarahkan populasi manusia ke kepunahan secara sengaja. Bilapun dikatakan dapat meminjam rahim atau sperma, selain dilarang pula dalam agama, hal ini juga tidak berkeperimanusiaan. Dapat anda bayangkan seorang wanita diberi upah untuk mengandung seorang anak yang nantinya akan diambil oleh orang lain? Hal ini sama saja memberikan harga atas nyawa seseorang. Apa bedanya dengan memperjual belikan manusia? Berkeperimanusiaankah hal itu? Satu-satunya upah yang pantas diterima oleh seorang ibu adalah keberhasilan anaknya.

Suatu perilaku yang menyimpang dari nilai-nilai budaya Indonesia. Budaya lebih dari sekedar tarian, nyanyian, atau rupa kesenian lainnya. Budaya adalah sebuah pemikiran, adat istiadat atau akal budi. Secara tata bahasa, arti dari kebudayaan diturunkan dari kata budaya dimana cenderung menunjuk kepada cara berpikir manusia (KBBI). Budaya adalah hasil perjuangan masyarakat terhadap alam dan zaman yang membuktikan kemakmuran dan kejayaan hidup masyarakat dalam menyikapi atau menghadapi kesulitan dan rintangan untuk mencapai kemakmuran, keselamatan dan kebahagiaan di hidupnya (Ki Hajar Dewantara). Jadi jangan berteriak saat tarian kita claim oleh negara tetangga jika kita saja tidak bisa menjaga pemikiran, adat istiadat leluhur asli bangsa Indonesia. Jangan berteriak ketika kesenian kita di claim negara lain, jika kita hanya mematung melihat budaya asing mengikis budaya bangsa kita.
**Pasal 32 ayat (1)
Negara mamajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.
Pasal 28 I ayat (2)
Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban.

Tidak sesuai dengan norma kesusilaan yang berlaku di Indonesia. Ketidakmungkinan melegalkan pernikahan sesama jenis di Indonesia juga merupakan suatu realitas bangsa. Adanya undang-undang pernikahan yang dibuat berdasarkan dasar negara, kebudayaan, adat istiadat dan kepribadian bangsa Indonesia tidak memungkinkan pernikahan antara individu dengan jenis kelamin yang sama. Disisi lain, seorang manusia pasti memiliki kebutuhan seksual. Sehingga jika saya membenarkan perilaku LGBT, berarti saya membenarkan perilaku seks diluar nikah, dimana hal ini jelas bukan sesuatu yang benar. Atau seharusnya hukum dan budaya kita yang dirubah demi kepentingan suatu golongan? Bukankah itu bertentangan dengan asas demokrasi yang dianut oleh negara Indonesia? Atau seharusnya kita merombak habis hingga ke asas yang kita anut demi kepentingan suatu golongan?

Dan menurut saya sebagai seorang yang beragama, sebagai seorang muslim, LGBT adalah suatu penyimpangan agama karena agama saya jelas melarang. Dan menurut beberapa sumber yang akan saya cantumkan dibawah, di Indonesia tidak ada agama yang memperbolehkan hal ini. Bukankah sudah terlalu jelas bahwa agama akan melarangnya? Dapat kita lihat dengan mata dan pikiran kita sendiri bahwa Tuhan telah menciptakan lubang untuk setiap kunciYakali kunci dipentokin sama kunci. Bahkan Ia menurunkan sejumlah firman untuk kembali mempertegas bahwa Ia menciptakan makhluknya berpasangan, lelaki dan perempuan.

Penetapan apakah LGBT merupakan penyimpangan orientasi seksual pun belum jelas. Meskipun ada beberapa penelitian berarti yang menyatakan hal ini adalah penyimpangan orientasi seksual namun ada pula penelitian yang cukup berarti untuk menentangnya, begitu seterusnya hingga kini, dinamika itu terus berlanjut. Dimana sudah menjadi sifat ilmu pengetahuan itu sendiri untuk terus berubah. Berikut saya lampirkan pengulasan lebih dalam LGBT dari sudut pandang Psikologi dengan sumber yang jelas, agar kemudian anda dapat menilainya sendiri sesuai dengan hati nurani anda. Penyimpangan Orientasi Seksual (Kajian Psikologis dan Teologi) 

Oleh karena dinamika ilmu pengetahun itu sendiri, sebaiknya pengimplementasiannya dijalankan beriringan dengan kajian spiritual, agar tidak mengingkari kodrat manusia sebagai mahkluk ciptaan Tuhan. Karna pada akhirnya hanya aturan agama lah yang tak lekang oleh waktu. Karena saya seorang beragama saya meyakini pada hakikatnya manusia adalah ciptaan tuhan yang harus mengikuti aturan Nya bukan aturan itu yang mengikuti perkembangan kita. Perlu diingat bahwa sifat manusia tidak akan pernah merasa puas, jika aturan terus diubah untuk memuaskan manusia maka tidak akan pernah tercapai keseimbangan.

***This is a beautiful video about science and Islam. Worth to watch. This guy is so amazing, i'm in love with his brave and cleverness. The Meaning of Life Muslim Version - Talk Islam

Begitu pula pengimplementasian nilai-nilai agama. Harus diselaraskan dengan ilmu pengetahuan dan aturan dimana kita berpijak, tanpa ingkar dari nilai-nilai agama itu sendiri. Sehingga agama dan ilmu pengetahuan bagaikan mobil dan bensin, ketika anda hanya memiliki mobil tanpa bensin, anda bisa berdiam didalamnya selama yang anda mau, tetapi anda tidak akan kemana-mana. Begitu pula ketika anda hanya memiliki bensin tanpa mobil, pada akhirnya anda akan bingung sendiri mau digunakan untuk apa.
Photo Source: Quotes Gram
Saya menolak LGBT. Namun, saya juga menolak kekerasan terhadap pelakunya. Arti kata menolak adalah tidak membenarkan (KBBI), bukan berarti saya melakukan deskriminasi terhadap pelaku LGBT. Saya tetap bersentuhan dengan mereka dalam menjalani kehidupan sosial, sebagaimana saya bersentuhan dengan non-LGBT. Tentu saja ada batasan pada setiap hubungan sosial bukan hanya dengan kelompok LBGT saja, ketika saya merasa ada satu dan lain alasan saya harus membatasi hubungan sosial, saya akan melakukannya. Saya menolak perilakunya bukan pelakunya.

Saya tidak akan memaksa mereka untuk meyakini apa yang saya yakini, apalagi hingga melakukan tindak kekerasan. Namun pada tingkat kedekatan tertentu, saya menjadi memiliki kewajiban agama dan moral untuk mengingatkan mereka bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah hal yang benar, dimana mereka memang berhak untuk mendapatkan informasi yang sebenar-benarnya. Bukan dengan tujuan menggugurkan kewajiban saya saja, namun juga untuk kebaikan mereka sendiri.

LGBT itu sendiri memang belum dapat digolongkan sebagai penyakit. Namun menurut penelusuran Timoty J. Dailey, Ph.D. dalam tinjauannya yang berjudul The Negative Health Effect of Homosexuality perilaku ini dapat menyebabkan penyakit lain. Dimana sekitar 61.2% pelaku homoseksual melakukan kegiatan anal sex yang sangat beresiko tinggi terjadi transmisi bakteri dan parasit termasuk HIV/AIDS. Belum lagi kegiatan sex seperti oral-anal sex yang semakin meningkatkan resiko tersebut. So, it is about faithfull. But also about safe sex. Sampai kapan seorang homoseksual bisa menahan untuk tidak melakukan anal sex? Untuk penjelasan lengkap mengenai resiko pemaparan penyakit lain silahkan dibaca tinjauan yang telah saya lampirkan. Tinjauan ini membahas resiko HVP, Hepatitis, GonorrheaSyphilisGay Bowel Syndrome (GDS), HIV/AIDS, Anal CancerBreast & Cervical Cancer. Juga dampak lain yang berkaitan dengan kesehatan. Diadaptasi dari sekitar 60 sumber, worth to read jika memang mau membuka mata tentang apa saja resiko kesehatan pada pelaku LGBT. 

Photo Source: Value Voter News
Resiko tetap ada meskipun menggunakan kondom. Berikut saya lampirkan survei terkait dari Center for Disease Control and Prevention (CDC) pada tahun 2007. Selengkapnya dapat anda lihat di situs CDC: Act Against AIDS. CDC mengatakan bahwa orang dengan Sexually Transmitted Disease (STD) atau di Indonesia biasa dikenal sebagai Infeksi Menular Seksual (IMS) (seperti gonorrhea/gonoresyphilis/sifilischlamydia/klamidia, dsb) memiliki resiko tiga hingga lima kali lebih besar daripada yang tidak memiliki STD/IMS. Dimana resiko penularan STD/IMS itu sendiri juga lebih tinggi pada pelaku MSM (Men who have sex with Men). Penjelasan lebih lengkap dapat dilihat pada link yang telah saya lampirkan pada paragraf sebelumnya. Dan dapat dilihat pada sittus CDC: Gay, Bisexual and Other Men Who Have Sex With Men (MSM). CDC dapat dijadikan sumber konkret karena ditulis berdasarkan survei yang benar-benar dilakukan dan disampaikan sebagaimana hasil asli dari survei itu sendiri, berbasis kesehatan dengan tujuan mengedukasi* dan tidak memihak.

*untuk mencegah peningkatan angka penyebaran penyakit. Recommended website, full of health knowledge.

Photo Source: Americans For Truth
Full version: CDC Statistics Pdf
Jika dikatakan LGBT ini adalah suatu perilaku, jelas ini akan memberikan pengaruh terhadap populasi disekitarnya, mulai dari hal terkecil seperti menganggap LGBT adalah sesuatu yang benar hingga perubahan perilaku yang cenderung mengikuti perilaku LGBT. Berikut saya lampirkan jurnal penelitian terkait perilaku: Behaviorism and the Construction of Knowledge. Berikut kajian tentang perilaku lainnya: Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku

***Berikut saya lampirkan video penuturan seorang psikiater tentang penularan perilaku LGBT: "LGBTMarak, Apa Sikap Kita?" - Indonesia Lawyers Club - TvOne ."LBGT bisa (menular). Tadi yang dikatakan, perilaku itu bisa menular. Penularannya bukan dalam konsep ada virus, ada kuman, bukan. Tapi yang disebut dengan teori perilaku, yaitu teori penularan dari konsep pembiasaan. Dia mengikuti satu pola, akan menjadi satu karakter, jadi kepribadian, jadi pembentuk kebiasaan, dan sebagainya, akhirnya menjadi penyakit. Menularnya dari konteks perubahan perilaku dan pembiasaan". - dr. Fidiansjah Sp. KJ MPH

Saya akan memberi contoh yang konkret dan mudah dipahami tentang penularan perilaku. Seorang anak yang dikelilingi teman bermain dengan perilaku gemar berkata kotor atau kasar misalnya, jelas akan terpengaruh. Mulai dari anak itu menganggap pengucapan kata kotor dan kasar adalah hal yang biasa, hingga cenderung mengikuti perilaku berkata kotor atau kasar itu sendiri. Dan hal ini benar-benar saya alami. Apakah perilaku ini dapat dirubah? Ya. Dengan kembali memahami kenapa hal itu salah dan meyakini bahwa sesuatu yang salah tidak seharusnya terus menerus kita lakukan hingga hal itu terasa benar. Tapi itu tidak mudah? Ya. Sangat tidak mudah. Selama kurang lebih 12 tahun saya menajalani pendidikan formal SD, SMP, SMA, saya selalu dikelilingi oleh teman-teman dengan perkataan yang ada-ada saja kotornya. Keluarga saya adalah keluarga yang taat beragama, jadi sebelum saya terperosok di pergaulan itu, untuk saya kata-kata kotor atau kasar sangat tabu. Tapi sekarang? Itu adalah hal yang biasa di telinga saya, saya bahkan mengikuti perilaku itu, dan saya menkmatinya, saya kecanduan, hingga perilaku itu menjadi bagian dari diri saya. Dan lama-kelamaan perilaku itu terasa benar untuk saya.

Kemudian lingkungan, kalangan, golongan, yang semakin beragam yang saya temui menampar saya. Menyadarkan saya kembali bahwa ini adalah sesuatu yang salah dan akan merugikan saya suatu saat, sehingga mau tidak mau saya harus berusaha untuk berhenti. Sepele memang, tapi kenyataan bahwa hal ini akan menyandung saya disuatu waktu dalah fakta. Selain berdosa, saya dipandang kurang baik dan bisa saja kurang dihormati sekarang ataupun nanti. Belum lagi luka di hati orang lain yang belum tentu bisa saya sembuhkan.

Lingkungan yang jujur mengedukasi saya tentang apa yang benar dan apa yang salah, apa yang dapat diterima dan apa yang tidak, apa yang merugikan saya maupun orang disekitar saya dan apa yang tidak, merupakan faktor pendukung yang sangat-sangat-sangat penting. Jika saya hanya dikeliling orang-orang yang dengan bulat-bulat menerima saya apa adanya hanya demi menjaga kenyamanan saya, jangankan terketuk untuk berubah, sadar bahwa apa yang saya lakukan salahpun tidak.

Mungkin ada beberapa orang yang tidak mudah terpengaruh oleh lingkungannya, tapi populasi ini sangat sedikit. Misalnya 2 dari 10 orang, lalu apa yang harus kita lakukan untuk mencegah 8 orang lainnya untuk tidak mengikuti perilaku yang tidak sesuai seperti LGBT? Karena itulah, saya sangat menentang propaganda PRO LGBT. Seperti penanaman paradigma pada masyarakat tentang "it's okay to be LGBT". 

Sangat tidak adil bukan jika generasi penerus tidak bisa mendapatkan informasi yang jujur tentang apa yang salah dan apa yang benar, padahal mereka memiliki hak atas hal itu. Saya secara pribadipun tidak ingin jika diwaktu anak saya lahir nanti LGBT sudah menjadi hal yang lumrah dimasyarakat sehingga anak saya tidak bisa mengetahui fakta yang sebenarnya.

***Berikut saya lampirkan penjelasan komisioner KPAI yang lebih detail tentang keterkaitan antara LGBT dan kepentingan seorang anak: (1)"LGBT Marak, Apa Sikap Kita?" - Indonesia Lawyers Club - TvOne (2)KPAI: Konten LGBT di Media Sosial Bahayakan Anak-anak (3)KPAI Sudah Peringatkan Pemerintah Atas Gejala LGBT (4)Tolak Alasan HAM, KPAI Imbau Lindungi Anak dari LGBT

No, it's not okay. 
Saya akan sangat mendukung organisasi-organisasi LGBT bila dapat menjadi lingkungan yang jujur untuk anggotanya, tell them that this is not okayIf you really care about them, you want to support them, instead of just telling them it's okay and convince them to come out. I think it'll so much better if you tell them the truth, not the things they want to hear.

Dan akan sangat baik jika di organisasi tersebut memiliki tenaga medis, seperti Psikolog contohnya. Karena seperti yang kita semua ketahui beberapa individu yang pada akhirnya memilih untuk menjadi LGBT pernah mengalami trauma terkait. Bukankah mengobati luka ini adalah hal yang terpenting diantara semuanya? Jika organisasi-organisasi ini benar-benar berasaskan kepedulian terhadap sesama dan mendukung dengan tulus, apakah mereka tega membiarkan anggotanya memelihara luka didalam hati dan pikiran mereka?

Ibaratkan seorang terdekat kalian memiliki trauma dimasa lalu, masa kecilnya tidak bahagia bahkan menderita, tiada hari yang ia lewati tanpa lebam yang diberikan oleh orangtuanya. Ketika tumbuh dewasa sahabat, keluarga, atau pasangan kalian ini menjadi pribadi yang kasar, tempramental, dan sering menerapkan kekerasan. Apakah kalian akan mengatakan kepadanya bahwa tidak ada yang salah dengan perilakunya? Apakah kalian akan mengatahan perilakunya tidak merugikan dirinya sendiri maupun orang lain? Atau kalian akan membantu mereka menyembuhkan trauma itu dan memberi kesempatan kepada mereka untuk benar-benar hidup, menjadi diri mereka seutuhnya, bukan diri mereka yang ter-rantai luka dan trauma?

Sediakan tempat konseling spiritual. Mereka berhak untuk mengetahui yang sebenar-benarnya bagaimana agama mereka memandang LGBT itu sendiri. Bukan malah secara asal-asalan memberitahu mereka bahwa agama tidak melarang. Atau malah mencari-cari pemuka agama yang mendukung hal ini. Just tell them the truth, maybe it's hurt, but lie will make them suffer.

***Berikut saya lampirkan video berisi seorang pendiri suatu organisasi LBGT sebut Islam memperbolehkan LBGT. Dan menyebutkan beberapa nama pemuka agama yang mendukung pernyataannya. Nikah Sejenis. Manusiawi atau Eksistensi - DEBAT - TvOne
PERINGATAN!!! JANGAN DITONTON JIKA ANDA MEMILIKI TEKANAN DARAH TINGGI, BISA LANGSUNG ANFAL.

Jika organisasi LGBT telah menjadi suatu lingkungan yang jujur, saya akan 100% mendukung adanya organisasi-organisasi ini. Namun sebaliknya, jika organisasi LBGT hanya terfokus pada meyakinkan anggotanya bahwa LGBT bukan sesuatu yang salah dan hanya berisikan dorongan untuk mereka mengakuinya, hanya mendorong mereka untuk come out, menurut saya itu hanya merupakan kepentingan golongan semata untuk meningkatkan populasi mereka. Bukan berasaskan mendukung dengan tulus apalagi kepedulian terhadap sesama.

Karena itulah saya katakan harusnya ada tenaga ahli kesehatan maupun spiritual, untuk menjawab kebingungan para anggota organisasi. Tenaga ahli yang berkompeten dibidangannya, netral dan tidak memihak. Sehingga seorang anggota yang datang dengan kebingungan bisa mendapatkan jawaban yang sebenar-benarnya, seutuh-utuhnya, sejujur-jujurnya, tanpa diselipkan kepentingan golongan.

Secara pribadi saya sangat meyakini bahwa LGBT bukan berasal dari faktor genetik. Saya pernah membaca pernyataan yang kurang lebih berbunyi "gay is gen. how about autism?i mean, what kind of life do you live? It don't even make any sense. I mean, seriously dude? Banyak individu dewasa yang menjalani hubungan sesama jenis karena pernah disakiti oleh lawan jenisnya. Apakah ada seorang individu dewasa yang tiba-tiba memilih untuk autis karena ia disakiti oleh orang yang tidak autis? "gay is a gen, just like the colour of your skinagain, seriously dude? Ada pelaku LGBT yang pernah mengalami pelecehan seksual oleh sesama jenis yang menjadikan mereka tertarik dengan sesama jenis*. Tetapi apakah mendapat pelecehan seksual dari seorang berkulit hitam dapat menjadikan seorang berkulit putih menjadi hitam? Terdengar sangat bodoh kah analogi ini? I hope you got the point.

*Misalnya, seorang anak laki-laki yang mendapat pelecehan seksual dari seorang dewasa laki-laki, mungkin hal ini menanamkan kesan yang salah diotak sang anak menjadikan dia berfikir bahwa sudah seharusnya seorang laki-laki melakukan ini (hubungan sex dengan lelaki pula), ia pun menjadi tidak memiliki ketertarikan seksual terhadap lawan jenis. Ini yang saya maksud sebagai trauma yang harus diobati, pandangan yang salah yang harus dibenarkan.
***Berikut saya lampirkan video penuturan seorang psikolog tentang bagaimana dampak kesenjangan pendidikan seksual di usia dini terhadap perilaku LGBT di masa dewasa, dan bagaimana pemberian pendidikan seksual yang benar untuk anak agar tidak terjadi kekeliruan persepsi dikemudian hari: "LGBT Marak, Apa Sikap Kita?" - Indonesia Lawyers Club - TvOne

Bahkan pada akhir artikel dengan judul seperti ini: Homosexuality is Genetic: Strongest Evidence Yet mengatakan bahwa sosial budayalah yang akan menentukan gaya hidup seksual seseorang terlepas dari bagaimana ia dilahirkan. Berikut saya lampirkan artikel yang mengkaji korelasi gen dan kecenderungan seksual: Eight Major Identical Twin Studies Prove Homosexuality Is Not Genetic. Berikut adalah jurnal penelitian terkait: “This Is The Way God Made Me” A Scientific Examination of Homosexuality and the “Gay Gene”

Dan kembali pada pandangan saya sebagai seorang beragama, saya meyakini bahwa tuhan menciptakan kita dengan sebaik-baiknya. Apakah masuk akal bahkan bagi seseorang yang tidak beragama, ketika Tuhan berfirman tentang dosa atas sesuatu, tapi ia melekatkan sesuatu itu sejak hambaNya dilahirkan, yang berarti sejak lahir hingga mati hambaNya itu akan terus berbuat dosa? Sesungguhnya Tuhan adalah yang paling adil, cerdas, dan tidak pernah berbuat kesalahan. Dan saya meyakini ketika dilahirkan semua bayi adalah suci, belum memiliki pemahaman tentang apa itu dosa, apalagi melakukannya. Dosa dilakukan dengan kesadaran penuh dengan akal yang sudah matang tanpa adanya gangguan.

Dan jika saja kita benar-benar ingin memahami, setiap larangan Tuhan pasti adalah hal yang terbaik untuk kita. Menjauhkan kita dari hal-hal yang merugikan kita. Seperti contohnya di agama saya Islam, seorang wanita diwajibkan menutup aurat (berhijab) kecuali didepan suaminya, sesama wanita (dengan batasan tertentu) dan keluarga (dengan batasan tertentu). Secara logika, hal ini tentu saja sangat mengurangi resiko pelecehan seksual yang dipicu oleh penampakan lekuk indah tubuh si wanita itu sendiri, terhindar dari teriknya sinar matahari yang bisa merusak kulit bahkan menyebabkan kanker kulit, menjaga kesehatan rambut, akan merasa lebih hangat ketika cuaca dingin, menutupi ketidaksempurnaan ditubuh maupun dikepala, hingga secara tidak langsung mencegah kita untuk melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan hijab kita. Imanilah bahwa Sang Pencipta pasti lebih pintar dari ciptaannya.

Untuk gembar-gembor beberapa pemuka agama Islam yang mengatakan Islam menghalalkan LGBT, saya tidak begitu ambil pusing. Memang saya kesal, marah, bingung pada awalnya. Apalagi ketika menemukan seorang dengan gelar begitu tinggi, berpakaian layaknya seorang muslimah, mengtakan islam menghalalkan LGBT. Tapi setelah menggali lebih banyak informasi tentang hal ini, saya kemudian mengerti tentang suatu organisasi atau paham Jaringan Islam Liberal ini.

Jangankan dalam hal beragama, dibidang kehidupan lain pun saya tidak pernah setuju dengan paham liberal. Apalagi sudah bersentuhan dengan agama, apanya lagi yang mau di-liberal-kan bung, jika kamu percaya Tuhan itu ada, kamu pasti tau, nafas mu saja diatur olehNya? saya mengimani bahwa satu-satunya kebebasan terkait agama adalah kebebasan anda untuk memilih agama apa yang ingin anda peluk, tapi ketika anda sudah memilih, anda harus mengikuti seluruh aturan didalam agama itu, tidak ada lagi kebebasan dalam bagaimana anda menjalaninya, aturan agama itu bersifat mengatur segala sesuatu yang anda lakukan dalam hidup anda.

Disinilah bukti bahwa ilmu pengetahuan akan pincang tanpa agama. Semakin saya gali, semakin banyak pernyataan-pernyataan konyol yang tidak masuk di akal sehat dari orang-orang yang berteduh di bawah Jaringan Islam Liberal ini, anda bisa mencarinya sendiri di mesin pencarian jika ingin mengetahui lebih jauh.


Ketika perkataan manusia membuatmu meragu, kembali lah kepada perkataan Tuhan-mu yang ada di dalam kitabNya. Untuk kita yang memeluk agama Islam, kembalilah kepada Al-Qur'an dikala kita ragu dengan perkataan manusia.“Kitab [Al Qur’an] ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 2). Dan untuk mencegah terbentuknya pemahaman yang salah atau kesesatan akan suatu hal yang berkaitan dengan agama, jangan pernah mencoba menafsirkan ayat Al-Qur'an jika tidak memiliki ilmu pengetahuan agama yang mumpuni, carilah guru-guru yang tepat dan dapat dipercaya ajarannya, jangan terpaku oleh satu guru, sehingga ketika ada perbedaan diantara ajaran-ajaran itu kita bisa kembali kepada Al-Qur'an untuk menentukan yang mana yang benar dan salah. Jika kita sudah memadukan agama dan ilmu pengetahuan, InshaaAllah AllahSwt. akan menunjukkan kita jalan yang benar. "Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa." (Al-Baqarah:41).

Apakah saya melanggar Hak Asasi kaum LGBT jika saya menolak perilaku mereka? Tidak, karena saya tidak melakukan pembatasan, pelecehan maupun pengucilan terhadap mereka. Saya tau dan sadar mereka ada. Namun saya menolak untuk membenarkan apa yang mereka lakukan dan menolak mengizinkan atau setuju atas adanya propaganda PRO LGBT dimanapun diseluruh Indonesia. Karena LGBT bertentangan dengan agama-agama yang berada di Indonesia, tidak sesuai dengan budaya dan hukum Indonesia, bertentangan dengan nilai-nilai pancasila (tidak sesuai dengan ketuhanan dan kemanusiaan), dan memiliki dampak kesehatan jiwa maupun raga yang cukup serius, kurang lebih alasannya seperti yang sudah saya jelaskan panjang lebar diatas. Dan perlu diingat kembali, saya kontra terhadap perilakunya bukan orangnya. Tapi jika kaum LGBT terus mem-push semua orang untuk membenarkan perilaku mereka, saya pun akan memperjuangkan hak saya untuk menolak.

Dan saya pun memiliki Hak Asasi untuk mengemukakan pendapat yang pasalnya sudah saya cantumkan di awal tulisan saya ini. Saya memiliki hak untuk menyatakan pikiran dan sikap sesuai dengan hati nurani saya. Saya berhak mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, saya memiliki kewajiban untuk menghormati hak asasi mereka, merekapun harus menghormati hak saya. Dan hak asasi pun diatur oleh undang-undang lain dalam pelaksaannya. Sebagai warga sipil dia memiliki hak asasi tapi dia juga memiliki kewajiban untuk tunduk terhadap undang-undang.
**Pasal 29 ayat (1)
Negara berdasarkan atas Ketuhanan yang Maha Esa
Pasal 28C ayat (1)
Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.
Pasal 28E
(2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.
(3) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.
Pasal 28H ayat (1)
Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan medapatkan lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.
Pasal 28 I ayat 
(1)Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban.
(5) Untuk menegakan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam peraturan perundangan-undangan.
Pasal 28J
(1) Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
(2) Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.
Pasal 32 ayat (1)
Negara mamajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.

Bila dikatakan budaya dapat berubah dan undang-undang dapat diamandemen, tetap tidak akan menguntungkan kaum LGBT. Karena sumber hukum tertinggi di Indonesia adalah Pancasila, seperti yang sudah saya paparkan diatas, perilaku LGBT menghianati nilai-nilai pancasila. Dan amandemen pun ada aturannya. Amandemen dilakukan untuk menyempurnakan aturan dasar yang tertuang dalam pembukaan UUD 45, dan pembukaan UUD 45 mengandung Pancasila. Amandemen dilakukan tanpa merubah pembukaan UUD NKRI tahun 1945. Selain tidak sesuai dengan isi pembukaan UUD 45, amandemen dilakukan untuk memperbaiki konstitusi negara, untuk kehidupan bernegara yang lebih baik, jika UUD diamandemen untuk kepentingan perilaku LGBT akankah negara menjadi lebih baik? Akankah Indonesia mampu memenuhi biaya kesehatan jiwa dan raga bila pada akhirnya perilaku LGBT membuahkan peningkatan angka ODHA, penularan IMS, masalah kejiwaan, dan masalah-masalah kesehatan lainnya di Indonesia? Akankah Indonesia mampu menangani keluhan, kerusuhan, ketegangan hingga hilangnya rasa kemanusiaan diantara warga negaranya sebagai buah sari amandemen yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.

Apakah harus kita merubah dasar negara kita hanya untuk suatu hal yang sudah jelas salah? Apakah suatu tindakan yang bijaksana untuk merubah dasar negara kita yang menganut asas demokrasi ini hanya untuk mensejahterakan suatu golongan yang merupakan minoritas? Bagaimana kesejahteraan kami si mayoritas yang menolak? Apakah suara kami tidak cukup bumbu untuk mengetuk hati para perwakilan kami di DPR sana? Apakah karena alasan kami hanya alasan berdasarkan agama, budaya, kepribadian bangsa, hukum dan logika tanpa adanya selipan kisah haru yang memaksa kalian merasa bertanggung jawab atas kepedihan yang pernah kami rasakan?

Tidak perlukah kita mempertimbangkan tujuan bapak negara (The founding father) kita membuat negara ini? Kenapa kita terlihat menuntut negara kita untuk mempunyai tujuan negara yang sama dengan negara lain? Mungkin itu sesuai dengan tujuan bapak negara mereka, misalnya bertujuan untuk menjamin warga negaranya dapat menjalani hidup dengan sebebas-bebasnya. Tapi apakah tujuan bapak negara kita sama dengan mereka?

Jika setidak sesuai itu hukum dan budaya negara ini dimata mereka untuk LGBT yang merupakan kelompok minoritas. Menurut anda dalam bernegara lebih baik kita menuntut negara kita untuk merubah dasar negara, kepribdian bangsa, asas yang dianut, hukum yang berlaku hingga budaya Indonesia yang sudah mencakup kepentingan lebih banyak golongan, demi kepentingan satu golongan atau menyarankan satu golongan yang menuntut ini itu tanpa mempertimbangkan kepentingan golongan lain itu untuk berpindah kewarganegaraan ke negara yang ia rasa dapat memenuhi seluruh aspek kehidupannya, yang ia rasa tujuan negara itu lebih sesuai dengan hati nuraninya jika mereka enggan untuk mengakui dan menghargai budaya Indonesia, mengikuti dan tunduk terhadap hukum yang berlaku di Indonesia? You decide, which one is more logic.

Negara melindungi kaum minoritas, tapi apakah negara harus memuaskan setiap kepentingan kelompok minoritas? Ingat kaum minoritas di Indonesia bukan hanya kaum LGBT. Jika suatu negara hanya mengikuti kemauan warga negaranya baik minoritas maupun mayoritas, merubah hukum begitu saja hanya untuk memuaskan keinginan warganya tanpa ada pedoman yang jelas (seperti Pancasila contohnya), dimana dan kapan akan tercapainya tertib bernegara, apakah kestabilan negara mungkin terwujud? Apakah mungkin kesejahteraan, keamanan dan keharmonisan dapat dirasakan bila sudah tidak lagi aturan-aturan negara yang mengkoridori perilaku bernegara?

Apakah masuk akal untuk anda sejak awal adanya gagasan untuk menyesuaikan budaya dan hukum di Indonesia dengan perilaku LGBT? Menurut pandangan anda, LGBT merupakan sesuatu yang benar atau salah? Jawablah sesuai dengan hati nurani anda. Yang jelas, sebagai pendukung anda memiliki hak untuk berteriak, tapi saya pun punya hak untuk menolak.

Mohon maaf sebesar-sebesarnya jika didalam tulisan saya ini terdapat kesalahan penulisan, bahasa, dan hal terkait lainnya. Mohon maaf jika didalam tulisan saya terdapat pernyataan yang menyingung, merugikan, dan hal serupa lainnya. Semoga tulisan ini memiliki manfaat. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca tulisan saya. Terima kasih untuk orang-orang disekitar saya yang bersedia membantu saya dalam pengerjaan tulisan ini, maaf ya bikin kuping kalian panas berhari-hari. Semoga dengan membantu saya, kepentingan kalianpun akan dibantu oleh Tuhan. Jika ada kritik dan saran, boleh di tulis dikolom komen, tapi mohon dengan kata-kata yang baik yaa.. Love ya<3




Kata yang tidak dijelaskan didalam tulisan:
  • Deskriminasi: setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung ataupun tak langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan, atau penghapusan pengakuan, pelaksanaan, atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individual maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya dan aspek kehidupan lainnya. (Bab I Undang-Undang Republik Indonesia No. 39 Thn 1999 Tentang Hak Asasi Manusia)
  • Propaganda: usaha untuk mempengaruhi dan mengendalikan kepribadian serta perilaku orang lain ke arah tujuan-tujuan yang tidak ilmiah dan masih diragukan kebenarannya dalam masyarakat tertentu (Leonard Doob). suatu kegiatan untuk menggerakkan (mobilisize) pendapat secara umum (mass opinion) secara besar-besaran yang bertujuan menyebarkan suatu ide tanpa memperdulikan kecocokan dan kebenarannya (Ferdinan Tonnies).
Sumber:
(Maaf ya males nulis sumber yang bener jadi ini aja ya, jelas kok, kalo mau ambil yaudah klik linknya nanti rangkai sendiri yang bener hehehe, piss loph n gawl.)

  1. Undang Undang Republik Indonesia No. 39 Tahun 1999
  2. Undang Undang Terkait Hak Asasi Manusia - Blog Komunitas Guru Pkn 
  3. Undang Undang Terkait Hak Asasi Manusia - Blog Eky J.  
  4. Pemaparan dr. Fidiansyah Tentang LGBT - Bintang.com 
  5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku - Syakira Blog (Sumber jelas, tercantum di akhir artikel)
  6. Pengertian Budaya Menurut Para Ahli - Seputarpengetahuan.com
  7. The Negative Health Effect of Homosexuality - Timoty J. Dailey , Ph.D., April 2007 
  8. Pengertian Berbagai Penyakit Menuar Seksual - alodokter.com
  9. LGBT Health - CDC - cdc.gov
  10. Behaviorism and the Construction of Knowledge - Qais Faryani Ph.D(Candidate - 2007)
  11. Definisi Propaganda Menurut Para Ahli - apapengertianahli.com
  12. Homosexuality is Genetic: Strongest Evidence - natureworldnews.com
  13. Eight Major Identical Twin Studies Prove Homosexuality Is Not Genetic - redflagnews.com
  14. “This Is The Way God Made Me” A Scientific Examination of Homosexuality and the “Gay Gene” -Brad Harrub, Ph.D. and Bert Thompson, Ph.D. and Dave Miller, Ph.D. - 2003
  15. "LGBT Marak, Apa Sikap Kita?" - Indonesia Lawyers Club - YouTube
  16. The Meaning of Life Muslim Version - YouTube: Talk Islam
  17. 13 Manfaat Menggunakan Jilbab Bagi Wanita Muslimah - manfaat.co.id
  18. Ayat Al-Qur'an Tentang Makhluk Diciptakan Berpasangan - masyadi.com
  19. Habib Rizieq Merespon Profesor Katakan "LBGT Halal Dalam Islam" - Youtube: FPI
  20. Dr. Zakir Naik - Apakah Hak Gay dan Lesbian Didalam Islam - YouTube: Cahaya Islam Channel
  21. Dr. Zakir Naik - Homo Itu Penyimpangan Bukan Bawaan Genetik - Youtube: Belajar Islam
  22. Dr. Zakir Naik - Islamic View On LGBT Lesbian Gay Bisexual & Transgender - YouTube: Peace TV Live Channel
  23. LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) - Kacamata Islam - YouTube: Rodja TV
  24. Felix Siaw - LGBT Bukan Keturunan - YouTube: rojali jafarudin
  25. Yasir Qadhi - What Should be the Muslim Response to Gay Marriage - YouTube: AlMaghrib Institute
  26. Ulil, LGBT, dan Al-Qur'an - rinaldimunir.wordpress.com
  27. Dukung LGBT, Ade Armando dan Musdah Mulia Simbol Penantang Allah - voa-islam.co.id
  28. Musdah Mulia Pendukung LGBT tak Berani Debat dengan Fahira Idris - portalpiyungan.com
  29. KPAI: Konten LGBT di Media Sosial Bahayakan Anak-anak - YouTube: BeritaSatuTV
  30. KPAI Sudah Peringatkan Pemerintah Atas Gejala LGBT - YouTube: iNewsTV
  31. Tolak Alasan HAM, KPAI Imbau Lindungi Anak dari LGBT - YouTube: chanel mulus
  32. Isi Pembukaan UUD 1945 Republik Indonesia - putra-putri-indonesia.com
  33. Perubahan/ Amandemen UUD 1945 (19 Oktober 1999 - Sekarang) - inggitberbagi.com

Comments